Saya sedang menyaksikan siaran langsung proses suksesi kepemimpinan di Australia ketika saya teringat akan polemik pemilihan gubernur yang terjadi di Sulsel. Dua proses yang sama-sama dilakukan dengan pemilihan umum oleh rakyat namun berbeda 180 derajat pada bagian ending dari proses itu.
Menarik memutar lagi rekaman kampanye kedua belah calon PM Australia pada masa kampanye (Theaustralian.news.com.au – Video). Untuk menarik simpati calon pemilih mereka tidak segan-segan saling memojokkan, saling mengatakan bahwa program lawannya adalah yang terburuk yang pernah didengar, bahwa jika sang lawan menang maka Negara akan dibawah ke masa depan yang tidak menentu, bahkan dalam sebuah pidatonya Howard mengatakan bahwa Kevin Rudd adalah seorang calon pemimpin yang tidak tahu apa-apa tentang ekonomi Australia.
Namun apa yang terjadi setelah pemilu pada malam harinya ketika media melansir berita bahwa Kevin Rudd lah yang keluar sebagai pemenang, beberapa menit setelahnya John Howard dengan gagah berani menyampaikan pidatonya untuk menyampaikan ucapan selamat kepada sang lawan yang menjadi pemenang sekaligus meyampaikan dukungannya atas pemerintahan yang baru. Sebuah kata-katanya yang cukup mengharukan adalah “ saya sedih dengan kekalahan ini, tetapi ternyata rakyat Australia menginginkan pemimpin yang baru, inilah demokrasi”. Sebagai catatan John Howard telah memimpin selama 11 ½ tahun. Kekalahan ini juga mengakhiri dominasi partai liberal di parlemen yang digantikan oleh mayoritas partai buruh.
Kembali ke pemilihan gubernur di sulsel. Sebuah acara sakral diadakan pada saat menjelang pemilihan berjudul “siap menang siap kalah”.Komitmen untuk mendukung siapapun yang keluar sebagai pemenang. Lebih jauh kebelakang ketika masa kampanye para calon tidak harus saling memojokkan dan menjelekkan akan program lawannya. Pun tidak saling menuding lawan sebagai calon yang buruk dan sebagainya. Semuanya aman aman saja sebelum pemilihan. (Saya tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan para kandidat di Aussie diatas dalam masa kampanye adalah sebuah hal yang patut ditiru, karena kita sesungguhnya berbeda latar dan budaya)
Tapi apa yang terjadi setelah pemilihan memperlihatkan hal yang sangat kontras yang sesungguhnya tidak ada salahnya ditiru. Satu hal yang sangat mutlak adalah hanya satu pemenang. Tidak mungkin lebih. Tetapi betapa susahnya mengatakan siapa yang menang. KPU telah memutuskan siapa pemenangnya. Tetapi dua calon yang kalah tidak menerima kekalahan itu dengan sebuah alasan terjadi pengelembungan suara. Entah siapa yang benar tapi KPU kemarin kembali menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh pihaknya telah sesuai dengan prosedur. Itu dinyatakan setelah para pengacara Amin Syam dibawah pimpinan Elsa Sarif menggelar press release yang menyatakan bahwa tim Amin siap merebut kemenangan melalui proses di MA. Deretan pengacara ini cukup disegani. Entah berapa mereka harus dibayar untuk pekerjaan mereka. Pastinya tidak murah. Semoga ini bukan uang rakyat lagi.
Sekali lagi ini membuktikan betapa mahalnya sebuah “kebesaran hati” itu dinegeri kita. Tetapi betapa mudahnya pengakuan itu keluar dari orang yang sungguh-2 telah menerapkan demokrasi dengan benar. Mari kita tunggu ending dari pilkada ini.
Menarik memutar lagi rekaman kampanye kedua belah calon PM Australia pada masa kampanye (Theaustralian.news.com.au – Video). Untuk menarik simpati calon pemilih mereka tidak segan-segan saling memojokkan, saling mengatakan bahwa program lawannya adalah yang terburuk yang pernah didengar, bahwa jika sang lawan menang maka Negara akan dibawah ke masa depan yang tidak menentu, bahkan dalam sebuah pidatonya Howard mengatakan bahwa Kevin Rudd adalah seorang calon pemimpin yang tidak tahu apa-apa tentang ekonomi Australia.
Namun apa yang terjadi setelah pemilu pada malam harinya ketika media melansir berita bahwa Kevin Rudd lah yang keluar sebagai pemenang, beberapa menit setelahnya John Howard dengan gagah berani menyampaikan pidatonya untuk menyampaikan ucapan selamat kepada sang lawan yang menjadi pemenang sekaligus meyampaikan dukungannya atas pemerintahan yang baru. Sebuah kata-katanya yang cukup mengharukan adalah “ saya sedih dengan kekalahan ini, tetapi ternyata rakyat Australia menginginkan pemimpin yang baru, inilah demokrasi”. Sebagai catatan John Howard telah memimpin selama 11 ½ tahun. Kekalahan ini juga mengakhiri dominasi partai liberal di parlemen yang digantikan oleh mayoritas partai buruh.
Kembali ke pemilihan gubernur di sulsel. Sebuah acara sakral diadakan pada saat menjelang pemilihan berjudul “siap menang siap kalah”.Komitmen untuk mendukung siapapun yang keluar sebagai pemenang. Lebih jauh kebelakang ketika masa kampanye para calon tidak harus saling memojokkan dan menjelekkan akan program lawannya. Pun tidak saling menuding lawan sebagai calon yang buruk dan sebagainya. Semuanya aman aman saja sebelum pemilihan. (Saya tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan para kandidat di Aussie diatas dalam masa kampanye adalah sebuah hal yang patut ditiru, karena kita sesungguhnya berbeda latar dan budaya)
Tapi apa yang terjadi setelah pemilihan memperlihatkan hal yang sangat kontras yang sesungguhnya tidak ada salahnya ditiru. Satu hal yang sangat mutlak adalah hanya satu pemenang. Tidak mungkin lebih. Tetapi betapa susahnya mengatakan siapa yang menang. KPU telah memutuskan siapa pemenangnya. Tetapi dua calon yang kalah tidak menerima kekalahan itu dengan sebuah alasan terjadi pengelembungan suara. Entah siapa yang benar tapi KPU kemarin kembali menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh pihaknya telah sesuai dengan prosedur. Itu dinyatakan setelah para pengacara Amin Syam dibawah pimpinan Elsa Sarif menggelar press release yang menyatakan bahwa tim Amin siap merebut kemenangan melalui proses di MA. Deretan pengacara ini cukup disegani. Entah berapa mereka harus dibayar untuk pekerjaan mereka. Pastinya tidak murah. Semoga ini bukan uang rakyat lagi.
Sekali lagi ini membuktikan betapa mahalnya sebuah “kebesaran hati” itu dinegeri kita. Tetapi betapa mudahnya pengakuan itu keluar dari orang yang sungguh-2 telah menerapkan demokrasi dengan benar. Mari kita tunggu ending dari pilkada ini.
No comments:
Post a Comment