Mengutip berita ini :
Makassar, Tribun - Kepala Badan Ketahanan Pangan Sulsel Prof Dr Ambo Ala mengatakan, Jeneponto, Selayar, dan Toraja adalah kabupaten yang termasuk kategori rawan pangan. Namun, dia menambahkan kalau tidak semua daerah tersebut masuk kategori rawan pangan.
Tribun Timur, Kamis, 13-12-2007 22:58:29
Mungkin ini yang disebut “karorean” ketika kami kecil dulu. Masa-masa dimana bahan makanan sangat sulit didapatkan. Belakangan istilah ini semakin jarang kita dengar seiring dengan semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat kita. Ukuran taraf hidup yang saya maksudkan disini adalah cukupnya bahan makanan bagi masyarakat. Artinya belakangan kita sudah jarang mendengar orang yang benar-benar tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.
Dulu ketika kita sudah mulai melepaskan diri dari masa-masa karorean itu, ada sebuah cerita jenaka yang sangat akrab dengan anak-anak muda jaman itu. Katanya, waktu kita kecil orang tua kita sering menyarankan untuk makan cabe sebanyak-banyaknya. Karena cabe bisa membuat rambut menjadi indah dan panjang. Juga, bisa membuat kita tinggi besar dan gagah. Muncullah istilah “Kalando, Kapua, Pa’lada” untuk menggambarkan seseorang yang ganteng. Menjadi jenaka karena belakanga anak-anak muda tadi akhirnya mengetahui bahwa itu hanyalah taktik orang tua supaya kita makan cabe sebanyak-banyaknya agar kepedisan sehingga minum air sebanyak-banyaknya yang tujuan akhirnya adalah agar cepat merasa kenyang dan tidak minta tambah nasi meskipun hanya kenyang air.
Ceritanya sama dengan ubi jalar kalau direbus. Katanya akan lebih banyak manfaatnya kalau dimakan dengan kulitnya. Padahal tujuannya agar cepat kenyang. Itu sekelumit cerita-cerita pahit yang kemudian menjadi indah untuk dikenang ketika jaman sudah berubah.
Masih dalam kaitannya dengan karorean itu. Orang Toraja dulunya hanya melakukan masa panen sekali dalam setahun. Setelah itu sawah dibiarkan digenangi air selama berbulan-bulan untuk menunggu masa tanam berikutnya. Masa-masa menunggu masa tanam hingga menjelang padi siap dipanen inilah yang menjadi masa karorean karena persediaan padi sudah menipis. Uniknya masa tanam dan masa panen ini tidak terjadi serempak di berbagai belahan bumi Toraja. Jika di Nanggala sedang masa tuai maka mungkin di Madandan sedang masa karorean. Itulah sebabnya kalau kita bertemu dengan kerabat dari bagian lain sering yang ditanyakan adalah “ma’pa mira tau sau’” (apa yang sedang dilakukan orang disana). Maksudnya adalah sedang musim apa disana. Jawabannya antara lain adalah “mantananmo”, “mantorakmo” atau “pariumo” dan lain-lain.
Ketika masa karorean terjadi di suatu tempat sementara di tempat yang lain terjadi masa panen, maka untuk mengatasi masa karorean itu biasanya orang-orang akan pergi ke tempat dimana masa panen terjadi untuk membantu memanen yang akan diberikan upah beberapa ikat padi. Mereka akan menginap disana selama beberapa hari mengingat tidak mungkin melakukan perjalanan tiap hari yang mungkin bisa memakan waktu sampai setegah hari atau bahkan sehari. Ini yang disebut “ma’bongi”, biasanya dilakukan oleh gadis-gadis yang tidak jarang juga mendapatkan jodohnya disana. Cerita ini pulalah yang kemudian memunculkan kisah yang membuat orang Toraja diperantauan sering “disegani” oleh sesamanya dari daerah lain. Katanya orang Toraja bisa membuat mayat berjalan. Konon, jika orang pergi ma’bongi yang mungkin memakan waktu satu hari perjalanan atau mungkin lebih karena jauhnya, tidak tertutup kemungkinan disana akan mengalami sakit atau bahkan meninggal. Nah jika sampai meninggal maka untuk membawa kembali ke kampung halaman inilah yang susah. Karena selain lamanya perjalanan juga membutuhkan beberapa orang untuk menggotongnya. Maka untuk memudahkan membawanya kembali, sang mayat kemudian disuruh berjalan sendiri. Tentu saja tidak semua orang bisa melakukannnya.
Seiring dengan semakin membaiknya keadaan maka belakangan kegiatan ma’bongi tidak terlalu sering dilakukan. Yang terjadi kemudian adalah Pasar Kalambe (Rantepao red) dan Pasar Makale dibanjiri Barra’ Rappang dan Barra’ Palopo. Tinggal bawa kopi dari Sopai atau Tuak dari Madandan atau tikar dari Dende’ maka kita akan kembali dengan membawa beras 20 Kg. Mungkin inilah bargain yang terbaik mengingat daerah kita tidak terlalu potensial untuk mengandalkan beras sebagai komoditi utama. Meskipun belakangan sejak masuknya pare sasa’ panen bisa ditingkatkan sampai 5 kali dalam 2 tahun.
Jika nenek saya beruntung harga kopi sedikit naik maka dia akan kembali dengan membawa sedikit ikan kering, garam tidak lupa beli buroncong buat cucu-cucunya. Sampai disini nampaknya roda perekonomian berjalan dengan baik. Nenek saya juga yang tadinya harus berjalan dari sopai “rengge’ baka” sampai Rantepao akhirnya bisa mengurangi perjalanannya karena mobil angkutan sudah sampai di Panompok. Almarhun nenek saya sudah meninggal 5 tahun lalu. Kisah beliau ketika mangrenge’ baka ke Panompok itu terjadi sekitar 25-an tahun lalu. Seperempat abad, sebuah rentang waktu yang tidak sedikit. Tentunya banyak hal yang telah berubah. Pastinya kearah yang semakin baik.
Namun sedikit kaget dan cukup terusik ketika bangun pagi ini membaca berita di Tribun Timur bahwa Toraja masih merupakan salah satu daerah rawan pangan. Kita kembali ke masa karorean?
Pertanyaan yang mengusik antara lain, apakah produksi tuak di Madandan sudah habis atau Kopi tidak lagi berbuah di Sopai atau kerajinan rakyat menganyam tikar di Dende’ sudah benar-benar gulung tikar?. Komoditi-komoditi kecil yang saya sebutkan ini sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan begitu banyaknya komoditi di Tana Toraja yang seharusnya cukup memakmurkan masyarakat Toraja. Perntanyaan sesungguhnya adalah jika rawan pangan kembali terjadi terus kita sedang berjalan kemana selama 30 tahun ini?
Salam hangat buat para pengambil kebijakan di Toraja.
Tribun Timur, Kamis, 13-12-2007 22:58:29
Mungkin ini yang disebut “karorean” ketika kami kecil dulu. Masa-masa dimana bahan makanan sangat sulit didapatkan. Belakangan istilah ini semakin jarang kita dengar seiring dengan semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat kita. Ukuran taraf hidup yang saya maksudkan disini adalah cukupnya bahan makanan bagi masyarakat. Artinya belakangan kita sudah jarang mendengar orang yang benar-benar tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.
Dulu ketika kita sudah mulai melepaskan diri dari masa-masa karorean itu, ada sebuah cerita jenaka yang sangat akrab dengan anak-anak muda jaman itu. Katanya, waktu kita kecil orang tua kita sering menyarankan untuk makan cabe sebanyak-banyaknya. Karena cabe bisa membuat rambut menjadi indah dan panjang. Juga, bisa membuat kita tinggi besar dan gagah. Muncullah istilah “Kalando, Kapua, Pa’lada” untuk menggambarkan seseorang yang ganteng. Menjadi jenaka karena belakanga anak-anak muda tadi akhirnya mengetahui bahwa itu hanyalah taktik orang tua supaya kita makan cabe sebanyak-banyaknya agar kepedisan sehingga minum air sebanyak-banyaknya yang tujuan akhirnya adalah agar cepat merasa kenyang dan tidak minta tambah nasi meskipun hanya kenyang air.
Ceritanya sama dengan ubi jalar kalau direbus. Katanya akan lebih banyak manfaatnya kalau dimakan dengan kulitnya. Padahal tujuannya agar cepat kenyang. Itu sekelumit cerita-cerita pahit yang kemudian menjadi indah untuk dikenang ketika jaman sudah berubah.
Masih dalam kaitannya dengan karorean itu. Orang Toraja dulunya hanya melakukan masa panen sekali dalam setahun. Setelah itu sawah dibiarkan digenangi air selama berbulan-bulan untuk menunggu masa tanam berikutnya. Masa-masa menunggu masa tanam hingga menjelang padi siap dipanen inilah yang menjadi masa karorean karena persediaan padi sudah menipis. Uniknya masa tanam dan masa panen ini tidak terjadi serempak di berbagai belahan bumi Toraja. Jika di Nanggala sedang masa tuai maka mungkin di Madandan sedang masa karorean. Itulah sebabnya kalau kita bertemu dengan kerabat dari bagian lain sering yang ditanyakan adalah “ma’pa mira tau sau’” (apa yang sedang dilakukan orang disana). Maksudnya adalah sedang musim apa disana. Jawabannya antara lain adalah “mantananmo”, “mantorakmo” atau “pariumo” dan lain-lain.
Ketika masa karorean terjadi di suatu tempat sementara di tempat yang lain terjadi masa panen, maka untuk mengatasi masa karorean itu biasanya orang-orang akan pergi ke tempat dimana masa panen terjadi untuk membantu memanen yang akan diberikan upah beberapa ikat padi. Mereka akan menginap disana selama beberapa hari mengingat tidak mungkin melakukan perjalanan tiap hari yang mungkin bisa memakan waktu sampai setegah hari atau bahkan sehari. Ini yang disebut “ma’bongi”, biasanya dilakukan oleh gadis-gadis yang tidak jarang juga mendapatkan jodohnya disana. Cerita ini pulalah yang kemudian memunculkan kisah yang membuat orang Toraja diperantauan sering “disegani” oleh sesamanya dari daerah lain. Katanya orang Toraja bisa membuat mayat berjalan. Konon, jika orang pergi ma’bongi yang mungkin memakan waktu satu hari perjalanan atau mungkin lebih karena jauhnya, tidak tertutup kemungkinan disana akan mengalami sakit atau bahkan meninggal. Nah jika sampai meninggal maka untuk membawa kembali ke kampung halaman inilah yang susah. Karena selain lamanya perjalanan juga membutuhkan beberapa orang untuk menggotongnya. Maka untuk memudahkan membawanya kembali, sang mayat kemudian disuruh berjalan sendiri. Tentu saja tidak semua orang bisa melakukannnya.
Seiring dengan semakin membaiknya keadaan maka belakangan kegiatan ma’bongi tidak terlalu sering dilakukan. Yang terjadi kemudian adalah Pasar Kalambe (Rantepao red) dan Pasar Makale dibanjiri Barra’ Rappang dan Barra’ Palopo. Tinggal bawa kopi dari Sopai atau Tuak dari Madandan atau tikar dari Dende’ maka kita akan kembali dengan membawa beras 20 Kg. Mungkin inilah bargain yang terbaik mengingat daerah kita tidak terlalu potensial untuk mengandalkan beras sebagai komoditi utama. Meskipun belakangan sejak masuknya pare sasa’ panen bisa ditingkatkan sampai 5 kali dalam 2 tahun.
Jika nenek saya beruntung harga kopi sedikit naik maka dia akan kembali dengan membawa sedikit ikan kering, garam tidak lupa beli buroncong buat cucu-cucunya. Sampai disini nampaknya roda perekonomian berjalan dengan baik. Nenek saya juga yang tadinya harus berjalan dari sopai “rengge’ baka” sampai Rantepao akhirnya bisa mengurangi perjalanannya karena mobil angkutan sudah sampai di Panompok. Almarhun nenek saya sudah meninggal 5 tahun lalu. Kisah beliau ketika mangrenge’ baka ke Panompok itu terjadi sekitar 25-an tahun lalu. Seperempat abad, sebuah rentang waktu yang tidak sedikit. Tentunya banyak hal yang telah berubah. Pastinya kearah yang semakin baik.
Namun sedikit kaget dan cukup terusik ketika bangun pagi ini membaca berita di Tribun Timur bahwa Toraja masih merupakan salah satu daerah rawan pangan. Kita kembali ke masa karorean?
Pertanyaan yang mengusik antara lain, apakah produksi tuak di Madandan sudah habis atau Kopi tidak lagi berbuah di Sopai atau kerajinan rakyat menganyam tikar di Dende’ sudah benar-benar gulung tikar?. Komoditi-komoditi kecil yang saya sebutkan ini sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan begitu banyaknya komoditi di Tana Toraja yang seharusnya cukup memakmurkan masyarakat Toraja. Perntanyaan sesungguhnya adalah jika rawan pangan kembali terjadi terus kita sedang berjalan kemana selama 30 tahun ini?
Salam hangat buat para pengambil kebijakan di Toraja.
Melbourne 14 Des 2007